Sunday, September 21, 2008

Ngesex waktu Hujan Deras


Aku wanita 24 tahun, tinggal di Yogya, sudah menikah punya satu anak lelaki yang September ini genap tiga tahun usianya. Akhir-akhir ini Aku merasakan ada sedikit kelainan seksual dalam diriku. Kalau dibilang Aku itu seorang eksibisionis kupikir kurang tepat juga walaupun Aku terkadang suka memamerkan bagian-bagian tubuhku. Dikatakan kurang tepat karena kelakuanku mempertontonkan tubuh hanya pada kondisi khusus dan hanya kepada lelaki tertentu saja. Selain itu, aksiku ini “bermanfaat” bagi kehidupan seksual bersama suamiku tercinta.

Anda jangan ketawa dulu soal “manfaat” tadi. Begini, setelah menjalankan aksi eksibisi itu Aku merasakan menjadi “bersemangat” untuk kemudian Aku jadi panas dalam melayani suamiku, sehingga akan berdampak pada tercapainya kepuasan luar biasa pada kami berdua dalam berhubungan seks. Suamiku sampai terheran-heran terkadang Aku begitu “bersemangat” di ranjang, padahal pada umumnya berjalan biasa-biasa saja. Bahkan terkadang agak malas melayani. Semangat tadi muncul karena ada pemicunya yaitu sebelumnya Aku telah melakukan eksibisi seksual. Tentu saja suamiku sama sekali tidak tahu kelakuanku yang rada menyimpang ini. Tapi Aku berpikir, sepanjang kelakuan anehku itu berguna bagi kami berdua, fine-fine saja bukan ?

Yang kumaksudkan “kondisi khusus” itu ialah peristiwa eksibisi terjadi begitu saja tanpa perencanaan. Ide untuk melakukan pameran tiba-tiba saja timbul setelah Aku mendadak menemukan kesempatan untuk melakukan. Kesempatan itu ada karena ada “pemicunya” (kalau Anda kurang menangkap apa yang kumaksud dalam kalimat-kalimat pada alinea ini, nanti akan menjadi jelas setelah Aku menceritakan peristiwanya, mohon bersabar dulu).

Tadi Aku menyebutkan memamerkan tubuh hanya kepada lelaki tertentu, karena memang tidak kepada setiap lelaki yang menarik perhatianku, misalnya karena dia ganteng, macho, atau lainnya. “Sasaranku” bisa lelaki manapun asal sudah “terkondisi” dan masih usia remaja ! Ya, hanya kepada anak lelaki belasan tahun. Bukan karena Aku seorang pedofil ataupun penggemar “brondong”, Aku punya alasan yaitu demi keamanan.

Kalau Aku memamerkan buah dadaku misalnya kepada seorang lelaki dewasa, Aku khawatir akan diartikan berbeda. Dalam pikiranku, lelaki itu akan punya sangkaan bahwa Aku menginginkannya. Lebih celaka lagi kalau dia akan menganggapku sebagai perempuan murahan. Tentu saja aksi pamer diri ini kulakukan seolah-olah secara tak sengaja. Aku tak mau lelaki sasaranku tahu bahwa Aku sengaja mempertontonkan tubuhku. Aku adalah tipe perempuan setia, selama ini Aku hanya berhubungan seks dengan suamiku seorang.

Kalau misalnya ada pertanyaan bagian tubuhku yang mana yang paling kusukai, tanpa ragu Aku akan menjawab buah dada dan kakiku. Aku bangga dengan bentuk buah dadaku yang membulat dan mulus, meskipun tak begitu besar. Blouse atau kaus yang ngepas di badan akan makin mempertegas “kebulatannya”. Bila Aku sedang jalan-jalan di mall misalnya, setiap lelaki yang berpapasan denganku selalu “tertangkap” oleh mataku sedang menatapi dadaku. Selain dada, Aku baru menyadari memiliki sepasang paha yang “bulat” setelah suamiku mengatakannya sewaktu kami pacaran.
“Engga ah, mayan panjang gini dibilang bulat” bantahku.
“Maksudku, penampangnya. Kalo dipotong di sini … (sambil merabai paha atasku), penampangnya berbentuk lingkaran nyaris sempurna”. Semuanya makin diperindah karena memang dasarnya kulitku yang langsat. Bila sedang bertelanjang, ketika mandi atau ganti pakaian di kamar, tak puas-puasnya Aku mengagumi tubuhku sendiri di depan cermin. Mungkin ini jenis kelainan lagi ? Semacam narsis atau apa gitu ?

Ada banyak aksi eksibisi yang pernah kulakukan, tapi Aku hanya menceritakan dua peristiwa saja yang paling mengesankan bagiku dan punya “efek” paling besar pada aksi ranjang bersama suamiku. Peristiwa pertama mengesankan karena itu adalah pertama kali aku pamer tubuh, dan peristiwa kedua adalah memang benar-benar mengesankan…

***

Siang agak sore itu Aku terjaga dari tidurku karena terdengar suara ribut dari ruang tengah. Kudengar suara percakapan adik bungsuku bersama paling tidak dua anak lainnya. Oh ya, ada empat orang yang tinggal di rumah. Aku dan suami (siang itu masih di kantor, tentu saja), adik lelakiku, si bungsu yang masih kelas dua SMP, dan seorang pembantu. Dengan malas Aku bangkit dari tempat tidur, ingin ke kamar kecil.

Aku keluar kamar, di ruang tengah memang ada adikku dan dua orang temannya, semuanya masih dengan seragam putih biru. Adikku sedang di depan desk top mengetik sementara seorang kawannya berada di samping dia, dan seorang lagi sedang duduk nonton TV.
“Udah pada makan belum ?” sapaku.
“Udah” jawab mereka berbarengan, lalu mereka kembali asyik dengan kegiatannya masing-masing. Aku berjalan menuju kamar mandi di belakang.

Selesai dari kamar mandi Aku ke ruang tengah lagi menuju mini bar yang letaknya di samping ruang makan dan agak berdekatan dengan letak pesawat TV. Ruang tengah dan ruang makan memang tak ada penyekatnya. Aku membuat minuman teh manis panas kesukaanku setelah terasa agak kedinginan karena AC kamar tidur yang Aku stel suhu rendah sebelum Aku tidur tadi. Selesai bikin teh Aku duduk di salah satu dari dua kursi tinggi di dekat mini bar, menikmati teh. Kebiasanku menikmati teh masih dalam keadaan panas, Aku seruput sedikit demi sedikit. Teh manis panas berkhasiat menyegarkan tubuh yang sedang lesu, begitulah paling tidak pengalamanku selama ini.
“Ngetik apa” tanyaku sambil menikmati teh pada adikku.
“Ada tugas kelompok, Kak”jawabnya.
Dua anak sedang asyik di depan komputer sementara seorang lagi santai, matanya tak lepas dari TV. Nonton TV ? Tidak juga rupanya. Ketika Aku mengalihkan pandangan ke anak yang santai ini, ternyata matanya tak sedang ke TV tapi menatapi kakiku. Tapi secepat kilat matanya kembali ke TV setelah “tertangkap” olehku. Kelihatannya anak ini dari tadi menatapiku, ketika sedang membuat teh tadi Aku merasa ada sepasang mata yang memperhatikan gerakanku.

Aku baru sadar telah membuat kesalahan. Bangun tidur tadi Aku tak mengganti pakaian tidurku. Pakaian tidur yang tipis, pendek pula dan berkancing di dada, sehingga ketika Aku duduk di kursi bar yang tinggi, hampir seluruh pahaku dan kakiku yang jenjang terbuka. Bahkan mungkin pandangan anak ini bisa menerobos ke sela-sela pahaku untuk menatapi celana dalamku. Celana dalam ? Kadang Aku tak mengenakan pakaian dalam ketika tidur. Aku melirik, untunglah … Aku mengenakannya, juga bra. Kuletakkan gelasku ke meja bar, Aku turun dari kursi dan ke kamar hendak berganti pakaian. Ekor mataku menangkap anak itu terus menatapiku sewaktu aku berjalan menuju kamar.

Kulepas baju tidurku dan kuambil daster dari lemari pakaian. Seperti biasa sebelum mengenakan pakaian Aku mengagumi tubuhku di depan cermin. Buah dadaku yang masih bulat tegak ke depan walaupun Aku menyusui anakku (dan suamiku smile.gif ), sepasang pahaku yang mulus dan berpenampang nyaris lingkaran sempurna, sepasang kakiku yang panjang dan mulus dengan ditumbuhi bulu-bulu halus. Mendadak ada perasaan aneh menyelinap, dadaku berdesir, teringat akan adegan film VCD “Private Teacher” yang dibintangi oleh Sylvia Kristel, bintang seksi yang juga main dalam film serial “Emmanuelle” yang erotis.

Cerita tentang anak lelaki umur 12 tahun yang suka ngintip perempuan dewasa yang sedang berganti pakaian.
Suatu saat perempuan itu menangkap basah si pengintip. Bukannya dia marah tapi malah menyuruh anak itu masuk ke kamarnya disuruh duduk. Mulailah perempuan itu mencopot bra-nya dan memamerkan buah dadanya. Hari berikutnya tak hanya bra yang dilepas, tapi celana dalamnya juga. Lalu kesempatan berikutnya dia jadi ‘guru’ yang mengajarkan anak polos itu bagaimana caranya berhubungan seks, lengkap dengan “praktikum”.

Ingatan pada adegan film itu menjadikan Aku untuk berbuat rada nekat. Aku tak jadi berganti pakaian. Dengan tetap berbaju tidur Aku keluar kamar menenteng majalah dan duduk di kursi tadi, pura-pura membaca. Dari balik majalah Aku menangkap anak tadi menatapi pahaku. Inilah pertama kalinya Aku merasakan “nikmatnya” eksibisi seksual. Aku terrangsang justru ada lelaki lain yang matanya menikmati tubuhku. Kusilangkan kakiku sehingga membuat bagian bawah pakaian tidurku semakin naik dan makin banyak pahaku yang terpampang. Melakukan gerakan tadi dengan mataku tetap tertuju pada majalah. Aku tak perlu khawatir adikku dan kawannya yang sedang di komputer akan menyaksikan pameranku, sebab mereka duduk membelakangiku.

Duduk di kursi bar yang tinggi dengan posisi kaki menyilang begini mustinya celana dalamku terlihat sedikit. Tapi Aku tak yakin. Aku ingin dia bisa melihat celana dalamku juga. Untuk meyakinkannya Aku menurunkan kakiku yang menyilang, duduk biasa dengan paha sejajar. Lalu beberapa saat kemudian Aku menggoyang-goyangkan kaki kananku, layaknya dilakukan orang kalau sedang asyik membaca. Gerakan yang membuat pahaku membuka dan menutup bergantian dengan cepat. Dengan begitu anak itu bisa mengintip celana dalamku sekelebatan tapi berulang-ulang. Nah pas lagi posisi membuka Aku menghentikan goyangan pahaku. Kuberi kesempatan kawan adikku itu menikmati pangkal pahaku lebih leluasa. Dari tepi majalah kuintip sekejap mukanya. Benar, pandangan matanya lurus ke arah pangkal pahaku. Wajah itu merah padam. Usahaku berhasil ….

Mendadak suatu aliran hangat menyebar ke seluruh tubuhku. Kurasakan mukaku juga menghangat, dadaku berdesir. Beberapa saat kemudian seluruh tubuhku terasa panas. Aku mengenali perubahan tubuhku yang seperti ini adalah ketika Aku terrangsang. Ini sungguh suatu reaksi yang tak kuduga sama sekali. Aku jadi terrangsang ketika sedang beraksi memamerkan tubuhku kepada anak lelaki remaja. Selangkanganku membasah. Aku begitu menikmati kondisi seperti ini. Ingin rasanya Aku mencopoti pakaianku sekarang juga di depan anak itu. Untunglah, Aku masih mampu mengendalikan diri. Ada adikku di situ.

Dalam keadaan terrangsang begini kadang muncul bermacam ide nakal. Aku tak ingin anak itu hanya melihat celana dalamku, Aku ingin dia bisa melihat lebih. Membuka kaki lebar-lebar ? Ah, akan kelihatan sekali pamernya. Kuingin aksi pamer ini terjadi seolah-olah Aku tak sengaja. Masuk kamar dulu, lepas celana, da duduk lagi di sini ? Ini juga akan terkesan sengaja. Jadi bagaimana ? Aha !

Pahaku tetap membuka sedikit dan Aku tetap pura-pura membaca. Tangan kanan memegang majalah sementara tangan kiriku mulai membuka kancing-kancing di dada. Gerakan tanganku membukai kancing ini tentu saja tak terlihat oleh anak itu karena sengaja kututupi majalah. Hanya dua biji kancing yang kubuka, dan hanya satu sisi belahan baju saja yang kuturunkan, agar memberi kesan tak sengaja. Walaupun begitu buah dada kiriku cukup terbuka dengan sedikit ‘penampakan’ pinggiran bra. Siap eksyen.

Kuturunkan majalah dan kuletakkan ke pahaku untuk tetap membaca, sehingga tubuhku sedikit membungkuk. Ini akan memperjelas penampakkan sebelah buah dadaku kepada anak itu. Sebenarnya Aku ingin melihat wajahnya untuk menangkap reaksi atas aksiku ini, tapi tak usahlah, biarkan saja dia menikmati suguhanku. Lagi-lagi kurasakan desiran di dada serta aliran hangat yang menjalar ke seluruh tubuh. Kali ini rangsangannya lebih hebat. Ingin rasanya Aku bertelanjang bulat sekarang juga di depan anak itu. Ada yang meledak-ledak di dalam tubuhku. Aku ingin kelembaban di bawah sana bisa “diselesaikan”.

Anehnya, Aku tak ingin anak itu yang menyetubuhiku. Aku menginginkan suamiku ! Ah … kemanakah dia ? Masih lamakah dia pulang kantor ? Tak tahan Aku bila membara terus seperti ini. Akupun gelisah. Aku turun dari kursi. Tanpa kusengaja tepi pakaian tidurku ada yang nyangkut di kursi sehingga sewaktu kakiku mendarat di lantai seluruh tubuh bagian bawahku terbuka, di depan anak itu ! Cepat-cepat aku tutup kembali pakaian yang tersingkap itu. Mataku refleks menatap anak itu, dan dia tertangkap sedang melotot fokus ke celana dalamku yang tadi seutuhnya terbuka….

Aku melangkah masuk kamar. Aku ingin tahu apa saja yang telah terlihat oleh anak itu. Kusingkap pakaianku di depan cermin. Kira-kira tadi tersingkap sebatas ini, berarti anak tadi sempat melihat sebagian perutku yang putih, dan … tentu saja termasuk celana dalamku yang membasah di bagian bawahnya yang membuat isinya ‘tercetak’ jelas. Aku tak tahu gimana reaksi anak itu. Yang jelas justru sekarang Aku yang horny …

Dalam kondisi yang gelisah dan “megap-megap” begini apalagi yang bisa Aku harapkan selain kedatangan suami. Setiap terdengar suara mobil yang mendekat rumah, Aku berharap itu mobil suamiku. Kalau kemudian ternyata itu bukan dia makin membuatku gelisah. Akhirnya penantian berakhir ketika suara mobil diikuti dengan suara terbukanya pintu garasi.

Aku langsung memeluknya kencang begitu suamiku masuk kamar.
“Eh…eh… ada apa nih…”serunya.
Aku tak menjawab, langsung mera-raba selangkangannya. Batang itu terasa memanjang. Kulepas ikat pinggangnya dan kubuka rits celananya, lalu kupelorotkan sekalian celana dalamnya. Batang itu sudah keras mengacung.

Tubuhku didorongnya sampai rebah ke ranjang. Dengan sekali renggut baju tidurku terlepas. Dengan bernafsu diciuminya buah dadaku. Aku senang suamiku menjadi buas begini. Inilah yang dari sejam lalu kutunggu. Dipelorotkan celana dalamku untuk menciumi isinya, lalu dijilatinya. Inilah yang Aku suka dari suamiku. Tubuhku berkelojotan bagai ular diganggu.
“Masukin …. sekarang …. Mas ….”desahku.
Dia taruh palkon-nya ke pintu liangku lalu digesek-gesekkan gerak vertikal, kebiasaanya memang begitu sebelum penetrasi. Memang sedap sih, tapi Aku sekarang ini butuh “diisi”, bukan stimulasi lagi.
Pas sapuan palkon sampai dipintu, Aku tarik pantatnya, masuklah kepalanya. Lalu dia mulai menusuk sampai mentok, dan merebahkan tubuhnya di atas tubuhku.
“Dah gak tahan lagi ya say….”bisiknya.
Pertanyaannya kujawab dengan menggoyang pinggulku …

***

Jumat pagi, suamiku yang sedang mengikuti seminar di Bandung menelepon, Aku disuruh nyusul ke Bandung. Gembira Aku mendengarnya sebab memang Aku sudah lama mengimpikan jalan-jalan ke kota berhawa sejuk itu. Banyak yang bilang belanja pakaian di Bandung harganya murah dan banyak pilihan. Segera Aku menelepon kesana-kemari untuk mendapatkan tiket. Pesawat Yogya - Jakarta memang banyak dan harga bersaing, tapi yang ke Bandung hanya satu, dan dengan tarif ‘normal’ pula, tiga kali lipat dibanding harga tiket Yogya-Jakarta. Aneh, padahal Yogy-Bandung lebih dekat. Naik KA, ada 3 pilihan, Aku kirim SMS ke suamiku tentang transportasi ke Bandung.

“Kalo yayang mau lebih baik pake KA, sebab sore cuaca jelek”. Okay, Aku putuskan naik KA Mutiara Selatan saja. Aku sering takut kalau mendarat dengan cuaca buruk. Berangkat jam 12 tengah malam, tiba di Bandung pukul 07 pagi, begitu yang tertulis di tiketnya. Suamiku akan menjemputku di stasiun Bandung.

Kukemas dua stel pakaianku ke dalam travel bag ukuran sedang supaya Aku mampu mengangkatnya sendiri, plus baju hangat menjaga kalau-kalau AC di KA terlampau dingin. Untuk perjalanan kupilih blouse warna cream berkancing dari bahan katun supaya nyaman, dipadu dengan celana panjang casual warna coklat muda. Aku mematut diri di depan cermin. Paduan warna atas dan bawahan membuatku tampil cerah, kulitku tampak makin putih. Model blouse dan celana yang ngepas di badan membuat tonjolan-tonjolan seksi, terutama di dada dan pinggulku. Baju hangat yang kupilih adalah model menyerupai blazer tapi lebih santai, bahan casual juga dan dan berwarna senada dengan celanaku. Terbayang, suamiku nanti pasti akan mengomentari :”Yayang seksi banget …”, lalu diikuti dengan ciuman dan rabaan nakal, perlucutan pakaian satu persatu dan diakhiri dengan hubungan seks yang bersemangat dan menyenangkan. Terbayang pula berpasang-pasang mata lelaki yang akan melotot mengikuti kemana Aku bergerak, seperti selama ini kualami ketika Aku keluar dari rumah. Membayangkan seperti itu cukup membuatku bergairah … Aku berangkat ke stasiun Tugu diantar oleh adikku.

Benar saja, di stasiunpun entah sudah berapa lelaki yang melototiku. Dulu sih Aku merasa risih, tapi lama kelamaan Aku sudah terbiasa, dan selalu bersikap acuh, seolah tak menyadari kalau banyak pasang mata sedang mengamati dadaku. Bahkan akhir-akhir ini Aku justru “menikmati” kalau menyadari bahwa banyak mata menontoni tubuhku. Di dalam keretapun begitu. Sewaktu Aku jalan di gang mencari-cari nomor tempat dudukku, hampir semua lelaki yang kursinya kulewati menatapiku. Seperti biasa Aku acuh saja seolah tak tahu.

Kutaruh tasku di bawah saja supaya Aku nanti tak repot kalau mengambil baju hangat. Nomor seat-ku memang di dekat jendela yang sengaja kupilih agar Aku bisa tidur nanti. Aku berharap kereta segera berangkat sebab sementara ini tempat duduk di sebelahku kosong sehingga nanti Aku bisa berselonjor kaki. Tapi rupanya harapan tinggal harapan, seorang ibu datang menanyakan apakah benar ini nomor 5 B.
“Benar, Bu”sahutku.
“Sini, Le …”kata Ibu itu melambaikan tangannya.
Datanglah seorang anak muda yang tergopoh-gopoh meletakkan tas lumayan besar ke rak di atas lalu duduk di sebelahku. Ibu tadi lalu membuka obrolan basa-basi denganku. Dikatakan anak muda ini adalah anak pertamanya yang baru saja lulus SMU, akan berangkat ke Bandung untuk kuliah. Dia suruh anaknya berkenalan denganku. Lalu ketika terdengar pengumuman kereta segera berangkat, Ibu tadi bilang :
“Titip anak saya ya Mbak …” Titip ? Memangnya Aku mirip Ibu panti asuhan ?
“Iya Bu”basa-basi saja.

Aku masih berusaha untuk mencari tempat duduk yang kosong supaya bisa tidur lebih nyaman. Ketika kereta berangkat Aku bangkit.
“Permisi ya Dik …”
Anak itu menggeser kakinya memberiku jalan. Tadinya anak itu menunduk menatap lantai, tapi begitu Aku melewatinya, matanya langsung melotot ke arah dadaku. Karena memang ketika Aku bergeser mau keluar dari kursi, dadaku berada tepat di depan hidungnya. Aku jalan ke belakang sambil meneliti kursi mana yang kosong. Tak kupedulikan tatapan mata lelaki-lelaki. Tak ada yang kosong. Memang ada 3 kursi yang hanya berisi masing-masing seorang. Seandainya Aku punya keberanian untuk meminta salah satu penghuni kursi yang sendirian itu untuk bergabung ke penghuni sendirian yang lain, Aku akan dapatkan kursi kosong. Tapi Aku tak berani. Atau anak itu saja yang kusuruh pindah ? Ah, sungguh Aku tak enak. Apa boleh buat, terima saja apa adanya. Aku kembali ke tempatku. Lagi-lagi mata anak muda itu memelototi tubuhku. Dan masih saja tak melepas tatapannya meskipun Aku sudah kembali duduk.

Sering dia mencuri-curi pandang. Menoleh kesamping menatap wajahku, lalu turun ke dadaku, dan kembali kedepan. Kalau Aku melongok keluar melalu jendela, dia seolah punya kesempatan untuk menatapi tubuhku.
Tingkahnya inilah yang membuatku punya ide nakal. Anak ini akan kuberi “pelajaran”, seperti yang pernah kulakukan pada teman sekolah adikku. Kalau memungkinkan malah seperti Sylvia Kristel di film “Private Teacher”. Dadaku berdesir membayangkannya. Mulailah kulakukan pendekatan, ajak ngobrol basa-basi. Rupanya anak ini pendiam, hanya bicara kalau ditanya. Mungkin pemalu dia. Aku memikirkan rencana apa yang akan kulakukan dalam show-off ini. Dia tertarik dengan dadaku, okay akan kuberi Dik. Tapi nanti ya, setelah penumpang lain pada tidur dan mas-mas pembawa makanan-minuman itu tak lagi lewat. Sementara ini Aku akan pura-pura tidur dulu. Ternyata Aku tertidur beneran …

Aku terbangun karena kereta berguncang berhenti mendadak dengan suara rem berdenyit. Refleks Aku menoleh kesamping ke “teman tidurku” si anak muda baru lulus SMU. Gotcha ! Mata anak itu baru saja beralih dari dadaku ! Ketangkap basah elo ! Tapi justru Aku yang kaget. Kulihat kancing blouseku yang paling atas sudah lepas. Bagian dadaku begitu terbuka sehingga menampakkan sebagian bulatan dadaku. Pantes saja anak ini memilih tak tidur karena mendapatkan pemandangan yang (mungkin) lebih indah dari mimpinya kalau dia tidur. Matanya yang segar tidak memerah menandakan dia belum tidur.

Rasa dingin AC menyergap tubuhku. Kuambil baju hangat dari tasku dan memakaikannya. Segala gerakanku dari mengambil baju sampai mengenakannya tak lepas dari lirikan curi-curi matanya. Aku coba mengingat-ingat kembali sebelum tidur tadi. Aku yakin sekali tadi tidak melepas kancingku. Apakah lepas sendiri ? Rasanya tidak mungkin. Lubang kancing ini masih kuat, tidak longgar. Apakah anak ini yang melepasnya ? Inilah satu-satunya kemungkinan. Seberani itukah Si pemalu ini ? Mungkin saja. Dibalik sifatnya yang pemalu mungkin saja sesungguhnya anak ini nakal. Kalau benar demikian, aha … Aku merasa mendapat tantangan !

Kereta berhenti cukup lama, sunyi, bukan berhenti di stasiun. Pandangan ke luar gelap gulita. Jam menunjukkan pukul dua lebih seperempat. Rasanya semua penumpang sudah tertidur, tak terdengar obrolan hanya samar-samar terdengar dengkuran yang bersahutan. Rasanya semua penumpang sudah tertidur, kecuali anak di sebelahku ini. Show time !

Sengaja Aku membiarkan kancing blouseku tetap terlepas, hanya mengatupkannya saja. Sedangkan baju hangat hanya menutupi kedua lengan dan bahuku saja, bagian dada tetap terbuka. Aku bersandar dan mulai memejamkan mata, pura-pura tidur sebenarnya untuk membuktikan sangkaanku tentang kenakalan anak ini.

Kereta belum juga jalan, keadaan masih senyap sehingga dengan mengeluarkan suara dengkuran halus cukup untuk mengelabui anak ini. Cukup lama Aku “mendengkur” belum ada kejadian (memangnya Aku mengharapkan kejadian apa?). Tapi tunggu dulu … serasa ada yang menyentuh blouseku. Aku deg-degan, tapi tetap pura-pura mendengkur. Benar. Terasa olehku ada yang membuka belahan blouse yang tadi kukatupkan. Siapa lagi kalau bukan anak nakal di sebelahku ini. Aku makin berdebar, membuat dadaku makin naik-turun. Rasanya belahan blouseku sudah terbuka lebar, lalu Aku menunggu aksi dia berikutnya.
Perkiraanku dia akan menyusupkan telapak tangannya kedalam blouse yang sudah terbuka. Aku menunggu, dengan dada yang berdegup. Kalau benar dia akan merabai buah dadaku, apa reaksiku ? Menampik tangannya diikuti dengan kemarahan besar atau justru membiarkannya ? Let see. Tapi aksi itu tak kunjung muncul. Penasaran Aku dengan amat hati-hati membuka sedikit mataku. Benar. Dari sela-sela bulu mataku Aku bisa melihat blouseku sudah terbuka lebar, bulatan buah dada kiriku hampir seluruhnya tampak. Mengetahui keadaan ini tubuhku menghangat, darahku serasa lebih cepat mengalir. Aku mulai gelisah.

Sampai kereta jalan lagi tak terjadi apa-apa. Anak ini hanya ingin melihat saja rupanya, silakan Dik, nikmati buah ranum kebanggaanku ini. Rasanya Mbak akan keberatan bila engkau ingin merasakan kehalusan kulit dadaku, atau ingin merasakan sintalnya buah kembarku ini dengan meremasnya. Aku ingin engkau tahu bahwa putingku sudah mengeras … silakan. Tapi sekian menit Aku menunggu lagi, keberanianmu tak muncul juga … Atau engkau akan membuka kancing blouseku lagi ? Lakukan saja. Aku akan diam tak berreaksi.
Sayangnya Aku memakai celana panjang. Bila saja Aku memakai rok, tak segan Aku akan mengangkat kakiku hingga tersibak dan engkau akan tahu Aku memiliki sepasang paha yang selain putih mulus juga berpenampang bulat. Lampu ruangan kereta yang cukup terang mungkin cukup buat kamu untuk mengamati bulu-bulu halus di pahaku. Khayalanku buyar ketika kurasakan sentuhan di dadaku. Berdebar Aku menunggu apa yang akan diperbuat oleh anak yang tampaknya alim tapi ternyata nakal ini. Tapi Aku tetap memperdengarkan dengkuran halusku.

Nah…. kamu nekat juga akhirnya. Bisa kurasakan kain blouseku tertarik-tarik. Sedang apa dia? Perasaanku dia sedang membukai kancing, meneruskan pekerjaan yang tadi tertunda. Ayo, setelah terbuka kancingku satu lagi, apa yang akan kamu lakukan… Ternyata tak ada apapun. Dinginnya AC kereta menyapu ke dadaku yang 3 kancingnya terbuka. Setelah beberapa saat tak ada sentuhan apapun, kubuka ujung kelopak mataku sedikit. Belahan blouseku memang telah tersibak ke kanan-kiri, sebagian bra-ku tampak, juga belahan dan bagian bulatan kedua buah dadaku. Selain itu, ada juga bayangan yang menerpa wilayah dadaku. Perkiraanku, anak nakal ini duduknya lebih mendekat ke arahku sedang menikmati hasil usahanya. Artinya, Aku telah berhasil mencapai tujuanku mempertontonkan tubuhku kepada remaja ini. Silakan, nikmati sepuasmu, Nak … Seperti yang pernah terjadi, kondisi seperti ini membuatku “gerah”, yaitu awal dari perasaan terrangsang.

Dan, kurasakan sentuhan di dada kiriku. Aku mengintip melalui sela-sela bulu mataku. Tampak jari-jari anak ini menyentuh buah dadaku. Awalnya hanya jari telunjuk, kini keempat jarinya sudah mengusapi buah dadaku. Kegerahanku mulai merambat naik, kurasakan di bawah sana mulai melembab. Aku bimbang, akankah anak ini kubiarkan terus menjamah buah dadaku atau Aku stop dengan elegan ? Entah kenapa kali ini Aku tak keberatan jika anak ini nantinya akan meremasi buah dadaku. Cuma yang Aku khawatirkan, dalam kondisi yang telah terrangsang begini tentu saja puting dadaku telah mengeras. Lulusan SMU ini kemungkinan besar telah tahu arti mengerasnya puting buah dada. Aku tak mau dia tahu bahwa Aku telah terrangsang.

Sementara ini masih kubiarkan dia mengelusi buah dadaku di wilayah yang terbuka saja. Kalau nanti dia berani menyusupkan jari-jarinya ke balik bra, baru Aku akan bertindak. Tapi …. kini ujung jarinya telah menyentuh pinggiran cup bra-ku. Harus ada tindakan sekarang. Bagaimana caranya supaya tak kelihatan Aku sedang pura-pura tidur ? Okay, kupejamkan mataku, lalu kupalingkan kepalaku sedikit ke arahnya. Berhasil. Dia menarik tangannya dari wilayah dadaku. Rupanya dia tak berani lagi menjamah, setelah sekitar seperempat jam kemudian tak ada lagi tangan dia. Kuperkirakan dia sekarang hanya berani memelototi saja.

Beberapa saat berikutnya kurasakan kursi kereta ini berguncang-guncang kecil dan teratur. Aku yakin ini bukan guncangan gerbong kereta, tapi “gempa lokal”. Dan “epicentrum gempa” ada di sebelahku, tidak puluhan kilo di bawah permukaan laut tapi hanya beberapa senti di atas permukaan kursi kereta. Ukuran gempa tak sampai satu skala Richter. Apa yang sedang dia lakukan sekarang dengan nafasnya yang memburu ? Tak sampai dua menit gempa tiba-tiba berhenti. Lalu beberapa detik berikutnya hidungku menangkap aroma khas, aroma yang sama ketika suamiku menginginkan variasi oral dengan diakhiri “membasuh” mukaku.

Aku jadi penasaran ingin meyakinkan sangkaanku. Kalau sangkaanku ini benar, alangkah beraninya anak ini. Kubuka kelopak mataku sedikit seperti tadi. Ternyata perkiraanku benar. Samar-samar kulihat penis tegang anak ini nongol dari rits celananya, dan di ujung batang yang membasah ini telapak tangan kirinya sedang menampung tetesan-tetesan akhir pancaran cairan yang beraroma khas tadi … Kututup mataku sebelum dia menoleh. Gerakan-gerakan tubuhnya menunjukan dia sedang sibuk berberes. Lalu sunyi, tak ada gerakan apa-apa. Kubuka lagi kelopak mataku, dia tak ada. Mungkin sedang ke toilet. Aku tersenyum penuh kemenangan ….

Aku berberes sedikit, hanya mengatupkan sibakan blouse tidak mengancingkannya. Belahan blazer masih teribak. Lalu Aku mengubah posisi duduk dan pura-pura tidur lagi. Setelah kurasakan dia kembali duduk, Aku pura-pura terbangun dan mengatupkan blazer dan menoleh ke arahnya. Lagi-lagi dia tertangkap mata mengamati dadaku. Aku tak merapikan kancing-kancing blouse-ku yang terbuka sebab Aku harus tetap bersikap seolah tak terjadi apa-apa. Nanti akan kurapikan di toilet saja. Aku bangkit.
“Permisi ya…”
“Oh…. silakan, Tante”
Kakiku melewati ujung dengkulnya dengan sedikit membungkukkan tubuhku. Tentu saja dadaku melewati hanya beberapa senti di depan hidungnya. Dengan blouse yang belum terkancing, dia bisa menikmati buah dadaku dari jarak yang amat dekat. Nikmati sepuasmu, ini adalah sajian terakhir, kataku dalam hati. Di toilet Aku merapikan blouse-ku, terlihat putingku masih menegang.

***

Di stasiun suamiku sudah menunggu sejam, keretanya memang terlambat. Aku menolak semua usul suamiku untuk mampir ke FO atau ke restoran.
“Langsung ke hotel aja, mo mandi dulu”kataku. Padahal sebetulnya Aku ingin cepat-cepat sampai di hotel agar penis suamiku bisa langsung “mengisi” di bawah sana yang masih lembab dan megap-megap.

Begitu kamar pintu hotel tertutup, Aku langsung menubruk suamiku, kupeluk erat-erat, sangat kencang.
“Katanya mo mandi dulu…..”katanya.
“Engga, mo ini dulu”kataku sambil menjamah selangkangannya. Batang yang dari semalam kurindukan mulai memuai.
“Aku juga pengin banget….”katanya.
Suamiku langsung melepas seluruh pakaiannya dengan cepat sampai telanjang bulat. Aku baru sempat melepas celana panjang dan CD-ku saja ketika suamiku membopong tubuhku dan “melempar”kannya ke ranjang. Ditindihnya tubuhku. Dirabanya kelaminku.
“Uh…. dah basah….”katanya.
Dia bangkit, bertumpu pada kedua lututnya dan lalu menusuk masuk. Aku menikmati pompaannya. Tubuhku serasa melayang-layang… Tak sadar Aku merintih dan melenguh lebih keras dari biasanya sampai suamiku menutup mulutku ….
Suatu persetubuhan yang sungguh begitu nikmat.
Kami baru menyadari bahwa ternyata pintu kamar belum tertutup rapat. Entah ada orang kebetulan lewat atau tidak ketika kami tadi bersetubuh. Yang jelas suara rintihanku tadi pasti nyampai ke mana-mana.
Dia bangkit hendak menutup pintu. Aku cegah sehingga kelamin kami masih bertautan.
“Biarin ajalah, Mas…”kataku.
“Entar ada yang lewat …..”
“Sayang mo dilepas”kataku.

Sebelum mandi kami melakukan lagi, maklum sudah 3 hari tak ketemu. Juga dengan pintu yang kubiarkan tak rapat tertutup, tanpa suamiku tahu. Dasar eksibisionis …..

Malemnya, Aku diajak ke suatu pertemuan reuni kawan sekolah suamiku di suatu ballroom di hotel Jalan Asia Afrika. Tak kusangka, Aku ketemu dengan kawan lama, Lina namanya, yang datang bareng suaminya. Mereka tinggal di Jakarta. Dia masih cantik seperti dulu, dan kulitnya tambah putih saja. Setelah ngobrol-ngobrol lama,
“Udah berapa anakmu?”tanyaku.
“Belum …. ”
“Tapi masih rajin bikin ‘kan ?”
“Iya dong ….”
“Perasaan elo jarang keluar kota deh….”kataku.
“Iya, sekarang kan ada keponakan suami yang tinggal di rumah, jadi gue bisa bebas kemana aja. Kaya’nya elo tahu deh keponakan suamiku. Yang dulu gue kenalin waktu gue nikah”
“Yang mana ya….”Aku coba mengingat-ingat.
“Didin, yang kekar itu…”
“Oh iya, gue inget. Anaknya Kang Sastra kan?”
“Yup”
“Gimana sekarang dia?”tanyaku.
“Masih kekar, tinggi lagi. Sekolah di SMU XX”
“Tambah ganteng dong dia”
“Pasti …. kuat lagi…”katanya sambil mengedipkan mata penuh arti.
Aku sih maklum saja. Aku tahu gimana Lina, selalu “haus” ….


Langanan saja Cerita Sex, Gratis. File di kirim by email. Daftar di Sini


0 comments:

Post a Comment

 
Powered by Blogger